Mengenal Suku Dayak Ngaju

Mengenal Suku Dayak Ngaju
Boleh Tahu?
Di Kalimantan Tengah, ada rumah adat yang panjangnya bisa sampai 150 meter, lho! Itu hampir sama panjang dengan satu setengah lapangan sepak bola. Rumah itu bisa dihuni puluhan keluarga sekaligus, dan mereka semua tinggal rukun dalam satu atap. Rumah unik ini milik Suku Dayak Ngaju. Yuk, kenalan lebih jauh dengan suku yang hidupnya dekat sekali dengan sungai ini!

Apa Itu?
Dayak Ngaju adalah salah satu suku asli yang tinggal di Kalimantan Tengah, Indonesia. Suku Dayak Ngaju disebut sebagai suku induk dari empat suku Dayak utama di Kalimantan, dengan puluhan anak suku di bawahnya.
Mereka sudah lama tinggal di sepanjang aliran sungai besar seperti Sungai Kahayan, Sungai Kapuas, dan Sungai Katingan. Suku Dayak Ngaju bisa ditemukan di sepanjang beberapa daerah aliran sungai di Kalimantan Tengah. Bagi mereka, sungai bukan cuma tempat mandi atau mencari ikan. Sungai adalah jalan utama untuk bepergian, sekaligus jantung kehidupan sehari-hari.

Mengenal Lebih Dekat
Rumah Betang, rumah raksasa yang penuh kebersamaan
Rumah adat Dayak Ngaju disebut Rumah Betang atau Huma Betang. Bentuknya seperti rumah panggung yang sangat panjang, dibangun tinggi dari tanah menggunakan kayu-kayu kuat. Rumah Betang biasanya dibangun dengan ketinggian tiga hingga lima meter dari permukaan tanah, untuk menghindari banjir saat musim hujan dan menjaga penghuninya dari binatang buas.
Satu Rumah Betang bisa dihuni banyak keluarga sekaligus, masing-masing punya biliknya sendiri. Meski begitu, mereka tetap hidup sebagai satu komunitas besar yang saling membantu. Rumah ini juga menjadi tempat berkumpul, bermusyawarah, dan mengadakan upacara adat.

Kaharingan, kepercayaan asli leluhur
Sebelum agama-agama besar masuk ke Kalimantan, masyarakat Dayak Ngaju sudah memiliki kepercayaan sendiri bernama Kaharingan. Masyarakat Dayak Ngaju meyakini bahwa mereka adalah ciptaan dari Ranying Hatalla Langit, dan leluhur mereka turun ke bumi dari langit untuk menjaga bumi dari kerusakan.
Sampai sekarang, sebagian masyarakat Dayak Ngaju masih menjalankan tradisi Kaharingan berdampingan dengan pemeluk agama lain seperti Islam dan Kristen.

Tiwah, upacara penghormatan untuk leluhur
Salah satu tradisi paling terkenal dari Dayak Ngaju adalah upacara Tiwah. Ini bukan pesta biasa, melainkan upacara sakral untuk menghormati anggota keluarga yang sudah meninggal. Tulang-belulang yang sebelumnya dimakamkan sementara akan diambil, disucikan, lalu dipindahkan ke bangunan kecil berbentuk rumah panggung yang disebut Sandung.
Tujuan dari upacara ini adalah menyucikan arwah kerabat agar mencapai kesempurnaan di alam baka yang damai. Karena persiapannya rumit dan butuh biaya besar, upacara Tiwah biasanya dilaksanakan setelah masa panen padi, saat masyarakat punya cukup bahan pangan dan waktu luang. Lama pelaksanaannya bervariasi, bisa beberapa hari sampai berminggu-minggu, tergantung besarnya acara.

Fakta Menarik
Rumah Betang bisa dihuni sekitar 100 sampai 150 orang dalam satu bangunan.
Rumah Betang punya banyak nama di berbagai daerah Kalimantan. Di Kalimantan Timur ada yang menyebutnya lou atau lamin, sedangkan di Kalimantan Selatan disebut Balai.
Di depan Rumah Betang biasanya ada patung kayu ukiran yang disebut Sapundu. Sapundu berfungsi untuk mengikat hewan ternak yang akan dikurbankan saat upacara Tiwah.
Dalam upacara Tiwah, ada alat musik khas yang dimainkan, yaitu Gandang Garantung, sejenis gong dan gendang tradisional yang dianggap sebagai penghubung dengan dunia roh.
Bangunan-bangunan religius seperti Sandung biasanya dihadapkan ke arah timur atau ke hulu sungai, karena arah itu dipercaya memiliki kekuatan magis yang besar dan sakral.
Tahukah Kamu?
Tangga menuju Rumah Betang biasanya dibuat dengan jumlah anak tangga ganjil. Masyarakat Dayak Ngaju percaya jumlah ganjil ini membawa rezeki dan keberuntungan bagi seluruh penghuni rumah.
Tanya & Jawab
Supaya penghuninya aman dari banjir saat sungai meluap, dan juga terlindung dari binatang buas.
Tidak semua. Sekarang banyak yang tinggal di rumah biasa, tapi Rumah Betang masih dijaga sebagai simbol budaya dan tempat upacara adat.
Sandung adalah bangunan kecil berbentuk rumah panggung yang digunakan untuk menyimpan tulang leluhur setelah upacara Tiwah selesai.
Bukan. Kaharingan adalah kepercayaan asli yang sudah ada sejak lama, jauh sebelum agama-agama besar dikenal di Kalimantan.
Karena persiapannya banyak, mulai dari perlengkapan adat sampai biaya, sehingga keluarga sering menunggu sampai benar-benar siap.
Kesimpulan Singkat
Suku Dayak Ngaju adalah salah satu suku asli Kalimantan Tengah yang hidupnya erat dengan sungai dan alam. Mereka punya rumah adat unik bernama Rumah Betang yang bisa dihuni banyak keluarga sekaligus, kepercayaan asli bernama Kaharingan, serta upacara sakral Tiwah untuk menghormati leluhur. Semua tradisi ini menunjukkan betapa kuatnya nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap alam dalam budaya Dayak Ngaju.
